Tampilkan postingan dengan label Pengertian Bata Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengertian Bata Ringan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2020

Fakta!!!! Ternyata Bata Ringan lebih Murah dibandingkan Bata Merah lhoo


Bata Ringan - Jaman yang semakin berkembang telah banyak menciptakan teknologi yang canggih, khususnya teknologi yang bergerak dibidang Infrastruktur. kini telah banyak terlahir inovasi baru, Seperti Material Bahan Bangunan. Salah satu contoh sebuah inovasi modern yaitu Bata Ringan sebagai pengganti Bata Merah dan Batako untuk dinding suatu bangunan. Terlebih Bata Ringan mempunyai berbagai kelebihan sehingga sangat cocok digunakan pada bangunan yang bersifat Komersial atau Banyak digunakan Oleh Umum.


Biaya Penggunaan Bata Ringan Terbilang cukup Ekonomis dibandingkan dengan Bata Merah lhoo! 
mari kita simak Perbandingkan biaya yang harus disiapkan untuk luasan dinding 1 m2, sebagai Berikut : 

*Bata Ringan :

Dalam 1 m2 dinding Bata Ringan membutuhkan sekitar 8.3 bata. Jadi 1m2 dinding bata ringan butuh bahan :

· 8,3 bata ringan t=10cm x Rp. 7. 410 = Rp. 61.503
· 4 kg mortar x Rp. 2.450 = Rp. 9.800
. Ongkos Tukang per m2 = Rp. 15.000

Totalnya biaya untuk 1 m2 dinding adalah Rp. 86.308

*Bata Merah :



Dalam 1 m2 dinding Bata Merah membutuhkan sekitar 8.3 bata. Jadi 1m2 dinding bata ringan butuh bahan :


·70 bata x Rp. 600 = Rp. 42.000,-
· 14 Kg Semen PC x Rp. 1.437 = Rp. 20.118,- (Harga Semen Gresik 40 Kg adalah Rp. 57.500,-)
· 0.04 m3 pasir pasang x Rp. 185.000 = Rp. 7.400,-
. Ongkos Tukang per m2 = Rp. 22.000


Totalnya biaya untuk 1 m2 dinding adalah Rp.91.518




Perbandingan diatas merupakan perbandingan harga bahan untuk dinding tanpa plester. Bisa dilihat bahwa bata ringan Lebih Murah dari bata merah. jika di konversi dengan plester bata ringan yang tipis bisa lebih hemat lagi.



Tertarik untuk menggunakan Bata Ringan?? silahkan Chat kami Bosku!!







Info Pemesanan

MEGATruss Global

Office & Showroom : Jl. Mayjend Sungkono, Citra Garden City / Ciputra, Blok P1. No.4 -

Kota Malang

Workshop & Factory di Surabaya : Pergudangan Mutiara Margomulyo Indah Blok A-37, Kota

Surabaya

Workshop di Kediri : Badas, Pare - Kediri

Workshop di Ponorogo : Desa Kradinan kecamatan Dolopo Ponorogo


Phone :

Telkomsel : 0853 3443 9900(Call, SMS, WhatsApp, Line)

Indosat : 0856 55 40 0004 (Call, SMS, WhatsApp)

XL / Axis : 087 888 48 5050 ( Call, SMS)

Phone & Fax : 0341 - 754253

Email : megatrussglobal@yahoo.com

Selasa, 20 Februari 2018

Pengertian Bata Ringan

Pemasangan Bata Ringan
Bata ringan adalah batu bata yang memiliki berat jenis lebih ringan daripada bata pada umumnya.
Bata ringan dikenal ada 2 (dua) jenis: Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC). Keduanya didasarkan pada gagasan yang sama yaitu menambahkan gelembung udara ke dalam mortar akan mengurangi berat beton yang dihasilkan secara drastis. Perbedaan bata ringan AAC dengan CLC dari segi proses pengeringan yaitu AAC mengalami pengeringan dalam oven autoklaf bertekanan tinggi sedangkan bata ringan jenis CLC yang mengalami proses pengeringan alami. CLC sering disebut juga sebagai Non-Autoclaved Aerated Concrete (NAAC).

Sejarah bata ringan - Bata ringan AAC ini pertama kali dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Bata ringan AAC ini kemudian dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman pada tahun 1943. Di Indonesia sendiri bata ringan mulai dikenal sejak tahun 1995, saat didirikannya Pabrikasi AAC di Karawang, Jawa Barat.

Bata ringan AAC adalah beton seluler dimana gelembung udara yang ada disebabkan oleh reaksi kimia, adonan AAC umumnya terdiri dari pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi).
Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama 7-8 jam. Alumunium pasta yang digunakan dalam adonan tadi, selain berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi kekerasan beton. Volume aluminium pasta ini berkisar 5-8 persen dari adonan yang dibuat, tergantung kepadatan yang diinginkan.
Adonan beton aerasi ini lantas dipotong sesuai ukuran. Adonan beton aerasi yang masih mentah ini, kemudian dimasukkan ke autoclave chamber atau diberi uap panas dan diberi tekanan tinggi. Suhu di dalam autoclave chamber sekitar 183 derajat celsius. Hal ini dilakukan sebagai proses pengeringan atau pematangan.
Saat pencampuran pasir kwarsa, semen, kapur, gypsum, air, dan alumunium pasta, terjadi reaksi kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke atmosfer dan langsung digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara yang terbentuk ini yang membuat beton ini menjadi ringan.

Bata ringan CLC adalah beton seluler yang mengalami proses curing secara alami, CLC adalah beton konvensional yang mana agregat kasar (kerikil) diganti dengan gelembung udara, dalam prosesnya mengunakan busa organik yang kurang stabil dan tidak ada reaksi kimia ketika proses pencampuran adonan, foam/busa berfungsi hanya sebagai media untuk membungkus udara.
Pabrikasi dan peralatan yang digunakan untuk menghasilkan CLC juga standard, sehingga produksi dengan mudah dapat pula diintegrasikan ke dalam pabrikasi beton konvensional. Hanya pasir, semen, air dan foam yang digunakan dan kepadatan yand didapatkan dapat disesuaikan mulai dari 350 kg/m³ sampai 1.800 kg/m³ dan kekuatan dapat juga dicapai dari serendah 1,5 sampai lebih 30 N/mm².
Pasir sungai  berukuran 2, 4, 6 dan 8mm dapat digunakan, tergantung pada kepadatan yang diinginkan. Semen portland menawarkan kinerja paling optimal tetapi kebanyakan jenis lain semen juga bisa digunakan.  kepadatan beton bisa disesuaikan, berbagai ukuran dan maupun panel prefab dapat diproduksi, di atas kepadatan dari 1.200 kg/m³ (setengah dari berat beton konvensional) untuk aplikasi struktural dapat mengunakan rangka baja.
Pada CLC, gelembung udara yang dihasilkan benar-benar terpisah satu sama lain, sehingga penyerapan air jauh lebih sedikit dan baja tidak perlu dilapisi dengan lapisan anti korosi,  beton dengan kepadatan diatas 1.200 kg/m3 juga tidak memerlukan plaster, seperti pada AAC, hanya cukup di cat saja. Penyerapan air lebih rendah daripada di AAC dan masih cukup baik dibandingkan dengan beton konvensional.
CLC sama halnya dengan beton konvensional kekuatan akan bertambah seiring dengan waktu melalui kelembapan alamiah pada tekanan atmosfer saja. Meskipun tidak seringan AAC, CLC tetap menawarkan penurunan berat badan yang cukup besar dibandingkan dengan beton konvensional dan isolasi termal 500% lebih tinggi dan tahan api.
Paku dan Sekrup dapat dengan mudah dipaku ke CLC terus tanpa harus menggunakan pen, CLC juga dapat dipotong atau digergaji. Bahkan panel dinding rumah seluruhnya dapat dicetak hanya dalam sekali tuang.
Beton CLC menawarkan banyak ruang lingkup pengaplikasian, mulai dari isolasi atap rumah pada kepadatan serendah 350 kg/m³ sampai dengan produksi panel dan lantai beton dengan kepadatan 1800 kg/m³.